Kamis, 26 Februari 2026
Advertisement
Advertisement

Wali Kota Pontianak Tekankan Literasi Media sebagai Kunci Menjaga Kondusivitas Kota

© Foto oleh Author
Advertisement

Rakyat Kalbar, Pontianak – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menegaskan pentingnya literasi media di tengah derasnya arus informasi dan kebebasan bermedia sosial yang semakin sulit dibendung. Kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga suasana Kota Pontianak tetap aman dan kondusif di era digital.

 

Hal tersebut disampaikan Edi saat membuka Sosialisasi Literasi Media yang diselenggarakan oleh KNPI Pontianak bekerja sama dengan KPID Kalimantan Barat di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Rabu (21/1/2026) malam.

 

Menurut Edi, tantangan media sosial saat ini jauh berbeda dibandingkan media penyiaran konvensional seperti televisi dan radio yang masih memiliki rambu-rambu serta etika penyiaran yang jelas. Di ruang digital, konten dapat diproduksi dan disebarluaskan secara bebas, baik dari segi tampilan, bahasa, maupun isi.

 

“Kalau televisi dan radio masih ada aturan dan etika penyiaran. Tetapi di media sosial, kontennya sangat bebas. Ini yang harus disikapi dengan kecerdasan dan kesadaran,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan, banyak konten di media sosial dibuat secara sepihak demi mengejar viralitas tanpa mempertimbangkan dampak sosial yang ditimbulkan. Konten provokatif, kekerasan, radikalisme, hingga pornografi, menurutnya, berpotensi mempengaruhi opini publik dan membentuk perilaku masyarakat, terutama generasi muda.

 

“Dulu sebuah berita harus berimbang dan ada klarifikasi. Sekarang, kalau tidak viral dianggap bukan konten. Ini berbahaya jika tidak diimbangi dengan literasi media yang kuat,” katanya.

 

Wali Kota juga menyoroti penyajian konten terkait kasus-kasus sensitif, seperti kekerasan atau persoalan yang melibatkan anak, yang kerap ditampilkan secara terbuka tanpa mempertimbangkan dampak psikologis terhadap korban. Ia menegaskan, penanganan dan penyampaian informasi atas kasus-kasus tersebut harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

 

“Tidak semua yang menarik untuk ditonton pantas untuk disebarkan. Kita harus tahu mana yang layak dibagikan dan mana yang sebaiknya ditahan demi melindungi masa depan korban,” tegasnya.

 

Sementara itu, Ketua KNPI Pontianak Zean Novrian menekankan peran strategis pemuda dalam menjaga ruang publik digital agar tetap sehat, informatif, dan beretika. Menurutnya, penyebaran informasi di era digital bukan lagi sekadar persoalan teknis, tetapi menyangkut tanggung jawab moral.

“Ini bukan hanya soal media atau penyiaran, tetapi menyangkut beban moral dalam menyampaikan informasi yang benar, mendidik, dan tidak memecah belah,” ujarnya.

 

Zean menilai kebebasan bermedia sosial harus diimbangi dengan kesadaran etis. Konten yang beredar luas memiliki dampak besar terhadap cara berpikir dan bersikap masyarakat. Oleh karena itu, pemuda tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi.

 

“Pemuda harus hadir sebagai agen literasi. Bukan sekadar penonton, tetapi menjadi bagian dari solusi dengan berpikir kritis, menyaring informasi, dan tetap menjunjung nilai persatuan,” pungkasnya. (*)

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar: