Kamis, 16 April 2026
Advertisement
Advertisement

63 Pendonor 100 Kali di Pontianak Digandjar Pin Emas

Kisah Pengorbanan yang Menyelamatkan Ratusan Nyawa

© Foto oleh Editor
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyerahkan piagam penghargaan kepada para pendonor yang telah mendonorkan darahnya untuk kemanusiaan.
Advertisement

Rakyat Kalbar, Pontianak – Sebanyak 63 pahlawan kemanusiaan di Kota Pontianak menerima penghargaan dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pontianak atas dedikasi mereka yang telah lebih dari 100 kali mendonorkan darah. Penghargaan berupa pin emas itu menjadi simbol penghormatan atas pengabdian panjang yang telah menyelamatkan banyak nyawa.

 

Untuk mencapai angka tersebut, para pendonor harus menjaga konsistensi gaya hidup sehat selama 25 hingga 30 tahun. Pengorbanan itu menjadi bukti nyata bahwa kepedulian terhadap sesama bisa dilakukan secara berkelanjutan.

 

Salah satu penerima penghargaan, Zulfydar Zaidar, membagikan kisah awal perjalanannya menjadi pendonor. Ia mulai berdonor saat masih menjadi mahasiswa di Jakarta pada 1990-an, ketika seorang seniornya membutuhkan bantuan darah untuk sang istri yang sedang sakit.

 

“Kalau saya boleh cerita, saya mulai donor karena ada orang yang membutuhkan donor,” ujarnya saat kegiatan penyerahan penghargaan dan halalbihalal PMI Kota Pontianak di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Senin (13/4/2026).

 

Zulfydar mengaku, pengalaman pertama donor darah bukan hal mudah. Rasa takut dan ngeri sempat menghantui. Namun di tengah keterbatasan hidup sebagai mahasiswa—dengan kiriman orang tua sekitar Rp400 ribu per bulan dan harus bekerja malam hari—ia menyadari bahwa membantu sesama tidak selalu harus dengan materi.

 

Baginya, donor darah memiliki makna mendalam. Darah yang didonorkan bukan sekadar cairan tubuh, melainkan bagian dari kehidupan yang dapat menyambung harapan orang lain.

“Kalau kita bicara amal jariyah, ini mengalir terus, tidak putus-putusnya. Membantu orang tidak putus-putusnya,” tuturnya.

 

Semangat itu terus ia jaga hingga kini, didorong oleh keyakinan bahwa di luar sana selalu ada orang yang membutuhkan pertolongan.

 

Senada dengan itu, Wali Kota Pontianak yang juga Ketua PMI Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyebut para pendonor sebagai pahlawan kemanusiaan sejati.

 

“Secara akumulatif, seorang pendonor 100 kali telah menyumbang sekitar 30 liter darah. Diperkirakan telah menolong dan menyelamatkan 100 hingga 200 jiwa,” ungkapnya.

 

Ia menjelaskan, kebutuhan darah di Kota Pontianak masih cukup tinggi, yakni sekitar 100 hingga 150 kantong per hari. Sementara ketersediaan rutin berkisar antara 70 hingga 100 kantong per hari. Sepanjang 2025, jumlah pendonor tercatat mencapai 21.644 orang, dengan mayoritas merupakan pendonor sukarela.

 

Untuk menutup kekurangan, PMI kerap menghubungi pendonor yang telah terdata, termasuk sukarelawan dan keluarga pasien dalam kondisi darurat.

 

Edi Kamtono mengakui, PMI Kota Pontianak masih menghadapi sejumlah keterbatasan, baik dari sisi teknis maupun administrasi. Salah satu upaya yang tengah dilakukan adalah penyediaan lahan untuk pembangunan laboratorium terpisah, sesuai standar akreditasi pemerintah.

 

“Nah ini sedang kita usahakan ke depan untuk kita bangun laboratorium tersendiri,” jelasnya.

 

Ia pun menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pendonor. Menurutnya, penghargaan pin emas tersebut bukan sekadar simbol, melainkan representasi rasa terima kasih dari masyarakat yang telah tertolong.

 

“Pin emas ini membuktikan bahwa saya mewakili warga yang telah mendapatkan darah dari Bapak-Ibu selama ini, yang telah terselamatkan. Mudah-mudahan ini menjadi amal jariah yang terus mengalir sepanjang masa,” pungkasnya. (*)

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar: