Rabu, 15 April 2026
Advertisement
Advertisement

Wali Kota Dorong Pembangunan Museum Pontianak, Warisan Sejarah Tak Boleh Hilang

© Foto oleh Editor
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyematkan Lencana Kejuangan 45 kepada Tokoh Pejuang Angkatan 45.
Advertisement

Rakyat Kalbar, Pontianak – Pemerintah Kota Pontianak terus berupaya merawat nilai-nilai perjuangan dan sejarah kota dengan mendorong kolaborasi berbagai pihak untuk menjaga situs, monumen, hingga dokumentasi bersejarah yang masih tersisa.

 

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengungkapkan rencana pembangunan museum sebagai pusat penyimpanan sekaligus edukasi sejarah di Pontianak. Salah satu lokasi yang tengah dikaji adalah kawasan SDN 14 di Jalan Tamar yang dinilai memiliki nilai historis.

 

“Kita ingin ada museum Pontianak. Di sana nanti kita harapkan bisa disimpan berbagai benda, foto, dokumen, dan catatan sejarah Pontianak,” ujarnya dalam kegiatan Halalbihalal Dewan Harian Daerah Badan Pembudayaan Kejuangan 45, Minggu (12/4/2026).

 

Menurutnya, museum tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi destinasi edukasi dan wisata sejarah bagi masyarakat.

 

Edi juga menekankan pentingnya perhatian terhadap gedung juang serta fasilitas pendukung bagi para pejuang dan pelestari sejarah. Ia berharap upaya pelestarian sejarah dapat terus didukung agar nilai-nilai perjuangan tetap hidup di tengah masyarakat.

 

“Kita berharap upaya pelestarian sejarah ini bisa terus didukung semua pihak agar nilai perjuangan tetap hidup,” tambahnya.

 

Sementara itu, Ketua Umum DHD 45 Kalbar Syafaruddin Daeng Usman mengingatkan pentingnya penghormatan terhadap tokoh-tokoh sejarah di Kalimantan Barat. Ia menyinggung peristiwa kelam Tragedi Mandor yang menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan daerah.

 

Menurutnya, banyak tokoh penting, termasuk Syarif Muhammad Alkadrie beserta keluarga dan kerabatnya, menjadi korban pada masa pendudukan Jepang. Hal ini, kata dia, menjadi pengingat bahwa Kalimantan Barat pernah kehilangan generasi terbaiknya.

 

“Kita kehilangan satu generasi terbaik bangsa ini. Karena itu nilai sejarah ini jangan sampai hilang, jangan sampai anak cucu kita tidak tahu siapa yang telah berjuang dan berkorban,” tegasnya.

 

Ia juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap situs bersejarah seperti Makam Juang Mandor yang dinilai bukan sekadar tempat ziarah, tetapi simbol memori kolektif masyarakat Kalimantan Barat.

 

Menurutnya, pelestarian sejarah tidak cukup hanya melalui cerita, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk perlindungan situs, pendokumentasian, serta edukasi kepada generasi muda.

 

“Sejarah ini harus kita rawat bersama. Bukan hanya dengan cerita, tetapi dengan tindakan nyata, penghormatan nyata, dan kepedulian nyata,” pungkasnya. (*)

Editor :
Slamet Ardiansyah

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar: