Kamis, 26 Februari 2026
Advertisement
Advertisement

Seorang Siswa Lempar Bom Molotov di SMPN 3 Kubu Raya

Ketua FKDM Kalbar: Ini Alarm Keras Dunia Pendidikan

© Foto oleh Author
Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kalimantan Barat, Muhamad Sani.
Advertisement

Rakyat Kalbar, Pontianak – Peristiwa pelemparan bom molotov yang dilakukan oleh seorang siswa di SMP Negeri 3 Kubu Raya, Selasa (3/2/2026), menuai perhatian serius dari berbagai pihak. Insiden tersebut dinilai sebagai peringatan keras bagi dunia pendidikan, khususnya terkait pembinaan karakter, kesehatan mental, serta sistem pengawasan terhadap peserta didik.

 

Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kalimantan Barat, Muhamad Sani, SH., MAP, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian yang melibatkan pelajar di lingkungan sekolah. Menurutnya, aksi tersebut tidak dapat dianggap sebagai peristiwa biasa.

 

“Ini sangat memprihatinkan. Ketika seorang pelajar sudah terlibat dalam tindakan berbahaya seperti pelemparan bom molotov, maka ini menjadi tanda adanya persoalan mendasar yang harus segera dibenahi dalam dunia pendidikan,” ujar Muhamad Sani, Rabu (4/2/2026).

 

Ia menegaskan bahwa penanganan kasus tersebut tidak bisa dibebankan hanya kepada aparat penegak hukum. Seluruh pihak, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah daerah, hingga aparat keamanan, harus terlibat aktif dalam pembinaan dan pengawasan anak.

 

“Pendekatannya tidak boleh hanya represif. Pembinaan mental, penguatan karakter, dan pengawasan terhadap peserta didik harus diperkuat. Sekolah wajib menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan,” tegasnya.

 

Dari perspektif psikologi pendidikan, Muhamad Sani menilai perilaku ekstrem pada pelajar umumnya dipicu oleh akumulasi masalah psikososial yang tidak tertangani sejak dini. Pada usia remaja awal, emosi anak masih labil dan rentan terhadap tekanan dari lingkungan keluarga, pergaulan, maupun sekolah.

 

“Jika tekanan tersebut tidak tersalurkan dengan baik, perilaku agresif bisa muncul sebagai bentuk pelampiasan. Karena itu, sekolah perlu memiliki sistem deteksi dini terhadap perubahan perilaku siswa,” jelasnya.

 

Ia juga menekankan pentingnya memperkuat peran guru Bimbingan dan Konseling (BK), meningkatkan komunikasi antara sekolah dan orang tua, serta menyediakan ruang aman bagi siswa untuk mengekspresikan permasalahan yang mereka hadapi.

 

“Pendidikan karakter dan literasi emosi harus menjadi bagian penting dalam pembelajaran agar siswa mampu mengelola emosi, menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, dan memahami konsekuensi dari setiap tindakan,” tambahnya.

 

Sementara itu, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman terkait motif dan latar belakang pelaku dengan tetap mengedepankan prinsip perlindungan anak sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

 

Diketahui sebelumnya, peristiwa pelemparan bom molotov di SMP Negeri 3 Kubu Raya mengakibatkan satu orang mengalami luka dan telah mendapatkan penanganan medis. Kondisi korban dilaporkan stabil dan sudah dipulangkan ke rumah.

 

FKDM Kalbar berharap insiden ini menjadi momentum evaluasi bersama agar dunia pendidikan di Kalimantan Barat benar-benar menjadi lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. (*)

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar: