Rakyat Kalbar, Pontianak – Pemerintah Kota Pontianak mulai mengambil langkah strategis berbasis data dengan menghitung kerugian dan kerusakan finansial akibat banjir melalui kajian aktuaria. Langkah ini dinilai krusial mengingat karakter geografis Pontianak yang berada di dataran rendah serta sangat dipengaruhi pasang surut Sungai Kapuas dan air laut.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengungkapkan bahwa pada Januari 2026 Kota Pontianak mengalami dua kali pasang tertinggi. Berdasarkan rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ketinggian air bahkan mencapai hingga dua meter di atas permukaan rata-rata.
“Beberapa kawasan terdampak cukup serius. Air tidak hanya menggenangi badan jalan, tetapi juga masuk ke rumah warga. Kondisi ini menimbulkan kerusakan material, mengganggu aktivitas masyarakat, bahkan memaksa sebagian warga untuk mengungsi,” ujar Edi saat membuka Kick Off Kajian Perhitungan Aktuaria Kerugian dan Kerusakan Finansial Akibat Banjir di Kota Pontianak, di Hotel Mercure, Kamis (15/1/2026).
Kajian tersebut didanai melalui program FINCAPES dari Universitas Waterloo, Kanada, dan dilaksanakan bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada. Menurut Edi, banjir dan pasang rob yang terjadi hampir setiap tahun berdampak langsung pada infrastruktur jalan, bangunan, serta rumah tinggal masyarakat, terutama di kawasan bantaran Sungai Kapuas.
“Oleh karena itu, kajian aktuaria ini diharapkan mampu memetakan besaran kerugian secara komprehensif sekaligus menjadi dasar perumusan kebijakan mitigasi banjir yang lebih tepat sasaran,” jelasnya.
Ia menuturkan, selama ini Pemerintah Kota Pontianak telah melakukan berbagai upaya mitigasi jangka pendek, seperti meninggikan sejumlah ruas jalan, memperlebar dan menjaga fungsi parit primer, sekunder, dan tersier, membersihkan saluran drainase secara rutin, serta menerapkan sistem pompanisasi untuk mempercepat aliran air ke Sungai Kapuas.
Namun demikian, kondisi topografi Pontianak yang relatif datar membuat sistem aliran air sangat bergantung pada tinggi muka air sungai.
“Perubahan iklim, kenaikan muka air laut, kerusakan daerah hulu, sedimentasi sungai, serta pesatnya pembangunan di wilayah sekitar seperti Kubu Raya dan Mempawah turut memengaruhi pola aliran air ke Pontianak. Masalah ini tidak bisa ditangani oleh kota sendiri, melainkan memerlukan kolaborasi lintas sektor dan wilayah,” tegas Edi.
Ia berharap hasil kajian aktuaria ini dapat menjadi rujukan penting bagi pemerintah kota, pemerintah provinsi, hingga kementerian terkait dalam menyusun perencanaan jangka panjang penanganan banjir, termasuk opsi pembangunan infrastruktur berskala besar. Di sisi lain, Edi juga mengajak masyarakat berperan aktif menjaga lingkungan, terutama dengan tidak membuang sampah sembarangan dan tidak mempersempit saluran drainase.
“Harapan kita, kajian ini menghasilkan rekomendasi yang aplikatif dan realistis untuk mengurangi risiko serta kerugian akibat banjir di Kota Pontianak ke depan,” ujar Edi.
Sementara itu, perwakilan Universitas Waterloo, Prof. Stefan Steiner, menjelaskan bahwa studi ini mengombinasikan pendekatan aktuaria dengan pengumpulan data primer dan sekunder. Metode yang digunakan meliputi survei lapangan, diskusi kelompok terarah (focus group discussion), serta konsultasi intensif dengan para pemangku kepentingan di tingkat lokal.
“Pendekatan aktuaria memungkinkan penghitungan risiko dan kerugian banjir secara lebih terukur, tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga dampak sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat,” ujar Prof. Steiner.
Menurutnya, integrasi antara pemodelan ilmiah dan realitas sosial menjadi kunci dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan yang relevan dan aplikatif. Ia menambahkan, kajian ini merupakan kelanjutan dari riset bahaya banjir dan pelibatan masyarakat yang sebelumnya telah dilakukan FINCAPES dan akan berlangsung hingga sembilan bulan ke depan.
“Tujuan utama kami adalah menjembatani sains dengan kebijakan. Dengan memahami besaran risiko finansial secara komprehensif, pemerintah daerah dapat merancang strategi mitigasi dan pembiayaan iklim yang lebih efektif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Prof. Steiner menilai Pontianak sebagai contoh penting bagi kota-kota dataran rendah di kawasan pesisir dan sungai yang menghadapi ancaman serupa akibat perubahan iklim. Hasil kajian ini diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi Kota Pontianak, tetapi juga dapat direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik risiko banjir yang sejenis. (*)
Komentar
Silakan login untuk memberikan komentar: