Selasa, 21 April 2026
Advertisement
Advertisement

UNU Kalbar Gaungkan Transisi Energi, Biomassa hingga Nuklir Dibahas sebagai Masa Depan Kalbar

© Foto oleh Editor
Seminar energi terbarukan di Hotel Golden Tulip Pontianak soroti ancaman krisis energi fosil.
Advertisement

Rakyat Kalbar, Pontianak — Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat menggelar Seminar Nasional Energi Terbarukan bertajuk “Akselerasi Transisi Energi di Kalimantan Barat: Tantangan dan Peluang Investasi” di Golden Tulip Pontianak, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan ini merupakan kolaborasi bersama Dewan Energi Nasional, Badan Pemeriksa Keuangan, dan Pertamina.

 

Rektor UNU Kalbar, Sukino, menegaskan bahwa kampus yang dipimpinnya berkomitmen menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan modern dan nilai-nilai Islam wasathiyah. Ia menilai, isu energi terbarukan bukan sekadar persoalan teknis dan ekonomi, melainkan juga bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.

 

“Transisi dari energi fosil menuju energi terbarukan adalah esensi kemaslahatan umat. Energi hijau memastikan generasi mendatang tetap dapat menikmati lingkungan yang sehat,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, rangkaian kegiatan tidak hanya seminar nasional, tetapi juga diisi dengan ramah tamah dan akan ditutup dengan jalan sehat di kawasan Kubu Raya. Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya memperkenalkan UNU Kalbar sebagai kampus inklusif dan progresif.

 

Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, yang membuka kegiatan, menyatakan dukungan penuh pemerintah terhadap percepatan transisi energi. Menurutnya, posisi geografis Pontianak yang dilintasi garis khatulistiwa memberikan potensi besar untuk pengembangan energi surya, selain biomassa dan energi air.

 

“Ketergantungan terhadap energi fosil harus mulai dikurangi secara bertahap, mengingat tantangan perubahan iklim yang semakin nyata,” tegasnya.

 

Ia juga menyinggung potensi cadangan uranium atau torium sekitar 24.120 ton di wilayah Melawi sebagai aset strategis masa depan, dan mendorong perguruan tinggi untuk turut berperan dalam pengelolaannya.

 

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Muhammad Kholid Syeirazi, Dwi Astiani, Alfeus Sunarso, serta Chairil Sutanto. Para pemateri sepakat bahwa sinergi lintas sektor menjadi kunci utama dalam mewujudkan kemandirian energi berkelanjutan di Kalimantan Barat.

 

Dalam sesi diskusi, Dewan Energi Nasional memaparkan strategi transisi energi nasional, termasuk membuka peluang energi nuklir sebagai opsi jangka panjang. Selain itu, kebijakan subsidi BBM dinilai perlu lebih tepat sasaran guna menjaga kesehatan fiskal sekaligus mendorong peralihan ke energi bersih.

 

Sorotan utama datang dari Dwi Astiani yang menegaskan bahwa Kalimantan Barat memiliki potensi besar sebagai lumbung energi berbasis biomassa. Ia menyebut limbah dari sektor kehutanan, pertanian, perkebunan hingga sampah perkotaan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif, khususnya di wilayah pedesaan.

 

Ia mengingatkan, cadangan minyak bumi nasional diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 9 hingga 11 tahun ke depan, sehingga kebutuhan energi alternatif menjadi semakin mendesak.

 

“Energi pendamping harus disiapkan dari sekarang agar daerah pelosok tetap memiliki akses energi yang memadai,” tegasnya.

 

Menurutnya, biomassa memiliki keunggulan karena mampu menciptakan siklus karbon yang relatif netral. Emisi karbon dari pembakarannya dapat kembali diserap oleh vegetasi, berbeda dengan energi berbasis batu bara yang meningkatkan akumulasi gas rumah kaca.

 

Ia juga mencontohkan keberhasilan Borås dalam mencapai kemandirian energi melalui pengolahan sampah organik menjadi listrik dan energi pemanas.

 

Meski begitu, ia mengakui tantangan logistik masih menjadi hambatan utama pengembangan biomassa. Untuk itu, pendekatan desentralisasi melalui pembangkit listrik skala kecil di tingkat lokal dinilai sebagai solusi paling efektif.

 

Terkait potensi konflik antara energi dan pangan, Dwi menegaskan pentingnya regulasi yang ketat agar lahan produktif tidak dialihkan untuk kebutuhan energi.

 

“Pengembangan energi harus berbasis limbah dan lahan marjinal, bukan mengorbankan produksi pangan,” jelasnya.

 

Menutup paparannya, ia mengajak generasi muda untuk mengambil peran dalam ekonomi hijau. Menurutnya, peluang besar terbuka, mulai dari bisnis karbon, produksi pelet biomassa skala UMKM, hingga pengelolaan biogas komunal di desa.

 

“Limbah akan selalu ada, sementara energi fosil akan habis. Ini saatnya generasi muda terlibat membangun kemandirian energi daerah,” pungkasnya.  (*)

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar: