Rakyat Kalbar, Ketapang – PT Agro Lestari Mandiri menggelar Apel Siaga Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat pada Jumat (12/6/2026). Kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata komitmen perusahaan dalam upaya pencegahan Karhutla.
Apel Siaga Karhutla diikuti 250 peserta. Mempertemukan pemerintah kabupaten, aparat keamanan, tokoh masyarakat, pemerintah desa, hingga perwakilan perusahaan sebagai Upaya memperkuat koordinasi menjelang musim kemarau.
Terbaru, demi mencegah Karhutla lebih cepat, PT Agro Lestari Mandiri, anak usaha Sinar Mas Agribusiness and Food menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Pemanfaatan AI sebagai sistem deteksi dini, mampu mengindenfifikasi indikasi asap dan api. Sehingga, respons di lapangan bisa dilakukan lebih cepat. Teknologi ini dioperasikan melalui kamera pemantau (CCTV). Nantinya bisa mendeteksi asap dan api hingga jarak 17 kilometer secara real time.
Penerapan teknologi tersebut sebagai bagian dari sistem pemantauan berlapis, melengkapi pemantauan hotspot berbasis satelit yang telah digunakan sebelumnya. Dengan kemampuan mendeteksi indikasi asap dan api secara real time, sistem AI membantu mempercepat proses identifikasi dan verifikasi potensi kebakaran.
Pemanfaatan teknologi ini menjadi bagian dari upaya pencegahan Karhutla yang lebih luas. Selain memperkuat sistem deteksi dini melalui kombinasi pemantauan berbasis AI dan satelit, perusahaan juga terus meningkatkan kesiapsiagaan melalui patroli rutin, pembinaan Masyarakat Siaga Api (MSA), serta penguatan personel dan sarana pemadaman.
Pada kesempatan itu, para pemangku kepentingan juga melakukan penandatanganan komitmen bersama pencegahan Karhutla. Bahkan menyosialisasikan Peraturan Daerah Kabupaten Ketapang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Tata Cara Pembukaan Lahan dengan Pembakaran Terkendali untuk Kearifan Lokal. Termasuk simulasi penanganan karhutla oleh Tim Kesiapsiagaan Tanggap Darurat (KTD) perusahaan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ketapang, Yunifar Purwantoro menyampaikan, pencegahan Karhutla membutuhkan keterlibatan semua pihak. Pria yang berperan sebagai inspektur apel siaga ini mengingatkan, bahwa risiko kebakaran dapat terjadi di berbagai wilayah. Sehingga kolaborasi antarpihak sangat penting.
“Karhutla bukan hanya menjadi urusan pemerintah atau BPBD. Pencegahan membutuhkan keterlibatan semua pihak. Mulai dari pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi, hingga organisasi kemasyarakatan,” lugas Yunifar.
Senada, Kepala Daerah Operasi (Daops) Manggala Agni Kalimantan X Ketapang, Rudi Windra Darisman mengatakan, sistem deteksi dini menjadi salah satu faktor penting dalam menekan risiko Karhutla. Menurutnya, semakin cepat potensi kebakaran diketahui, semakin besar peluang mencegah api meluas.
“Langkah pencegahan yang paling efektif adalah memperkuat sistem peringatan dini dan deteksi dini. Seperti monitoring hotspot secara berkala, patroli terpadu, serta pengecekan langsung di lapangan,” jelas Rudi.
Camat Nanga Tayap, Sabran berpendapat, keterlibatan masyarakat merupakan bagian penting dalam upaya pencegahan Karhutla. Menurutnya, kegiatan pencegahan seperti apel siaga tidak hanya memperkuat kesiapsiagaan di lapangan.
Tetapi juga memberikan rasa aman bagi masyarakat. Karena menunjukkan komitmen berbagai pihak untuk bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran.
“Karhutla tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja. Ini adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Karena itu, kolaborasi dan komunikasi yang baik sangat penting. Supaya potensi kebakaran dapat dideteksi lebih dini dan dicegah sebelum menjadi bencana yang lebih besar,” ujar Sabran.
Sementara itu, CEO Perkebunan Sinar Mas (PSM) 7, Bonny Wijaya menjelaskan, pemanfaatan teknologi dapat membantu mempercepat deteksi risiko. Namun, penggunaan teknologi tersebut perlu dibarengi dengan kolaborasi dan kesadaran bersama.
“Menjaga lingkungan dari risiko kebakaran membutuhkan kerja sama banyak pihak. Karena itu, kami terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat dan para pemangku kepentingan, agar upaya pencegahan dapat berjalan dengan optimal,” ujar Bonny.
Di tengah tantangan musim kemarau yang kembali datang setiap tahun, pencegahan Karhutla tidak lagi hanya mengandalkan respons ketika api muncul. Melalui kombinasi teknologi, kesiapsiagaan di lapangan, dan kerja sama dengan masyarakat, berbagai pihak berupaya memastikan potensi kebakaran dapat dikenali dan ditangani lebih dini. (rom)
Komentar
Silakan login untuk memberikan komentar: