Rabu, 11 Maret 2026
Advertisement
Advertisement

Tudang Manre Sipulung Warnai Ramadan di Pontianak, Tradisi Bugis Pererat Kebersamaan Lintas Komunita

© Foto oleh Author
Para tamu undangan Tudang Manre Sipulung tengah menikmati hidangan makanan khas Bugis.
Advertisement

Rakyat Kalbar, Pontianak – Aroma hidangan khas Bugis memenuhi ruangan Hotel Ibis di Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Minggu (8/3/2026). Di atas hamparan kain putih yang disusun memanjang, ratusan orang duduk bersila, saling berbagi cerita sembari menunggu waktu berbuka puasa.

 

Suasana hangat itu merupakan bagian dari perhelatan Tudang Manre Sipulung 2026, tradisi makan bersama masyarakat Bugis yang digelar oleh Forum Komunikasi Orang Bugis Kalimantan Barat. Tradisi ini bukan sekadar menikmati hidangan, tetapi menjadi simbol kebersamaan, persaudaraan, dan rasa syukur.

 

Dalam bahasa Bugis, tudang berarti duduk, manre berarti makan, dan sipulung berarti bersama. Di Kota Pontianak, tradisi ini berkembang menjadi ruang pertemuan lintas komunitas, tempat budaya menjadi pengikat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat.

 

Kegiatan yang berlangsung di bulan Ramadan itu terasa semakin hangat dengan rangkaian pertunjukan budaya sebelum waktu berbuka. Irama musik dan gerak tarian tradisional Bugis menyambut para tamu yang hadir, menghadirkan nuansa budaya yang kental di tengah suasana Ramadan.

 

Ketika hidangan mulai disajikan, deretan kuliner khas Bugis menggugah selera para peserta. Di antara sajian yang tersusun rapi terdapat jalangkote, doko-doko, bolu peca, hingga kurma sebagai pembuka. Sementara menu utama menghadirkan burasa, lepat lau, sambal udang kentang, coto Makassar, rendang, serta kopi Toraja Sapan dan Seko yang menambah kehangatan suasana.

 

Sebagai penutup, es pisang ijo dan saraba melengkapi hidangan berbuka puasa yang dinikmati bersama. Bagi masyarakat Bugis, setiap sajian tersebut bukan sekadar makanan, tetapi juga membawa cerita tentang tradisi, perjalanan, dan identitas budaya yang tetap dijaga meski jauh dari tanah asal.

 

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menilai tradisi Tudang Manre Sipulung mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan masyarakat Pontianak yang hidup dalam keberagaman. Ia menyinggung nilai luhur dalam budaya Bugis yang dikenal melalui ungkapan “sipakatau, sipakatalebbi, sipakainge”, yang berarti saling memanusiakan, saling menghormati, dan saling mengingatkan.

 

“Pontianak ini kota yang dihuni oleh berbagai suku dan budaya. Tradisi seperti Tudang Manre Sipulung menunjukkan bagaimana budaya dapat menjadi perekat persaudaraan sekaligus memperkaya kehidupan masyarakat,” ujarnya.

 

Menurutnya, kegiatan budaya yang dibalut dengan semangat berbagi di bulan Ramadan juga mencerminkan nilai gotong royong yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Kalimantan Barat.

 

“Selain melestarikan tradisi, kegiatan ini juga mempererat silaturahmi dan berbagi kepada sesama, apalagi dilaksanakan di bulan Ramadan yang penuh berkah,” tambahnya.

 

Menjelang waktu berbuka, suasana ruangan semakin khidmat. Ketika azan Magrib berkumandang, para peserta serempak menyantap hidangan yang telah tersaji di hadapan mereka. Duduk bersila tanpa sekat dan tanpa perbedaan status, semua larut dalam suasana kebersamaan.

 

Di tengah arus modernisasi kota, Tudang Manre Sipulung menjadi pengingat bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat yang kuat di hati masyarakat. Tradisi ini bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga jembatan yang menghubungkan generasi, mempererat silaturahmi, serta merawat identitas budaya di Kota Pontianak. (*)

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar: