Minggu, 05 April 2026
Advertisement
Advertisement

Tanpa Bayangan di Garis Khatulistiwa, Traveller Swiss Takjub Saksikan Kulminasi Matahari di Pontiana

© Foto oleh Editor
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono bersama para siswa SD ikut mendirikan telur pada momen Kulminasi Matahari.
Advertisement

Rakyat Kalbar, Pontianak – Fenomena matahari tepat di atas kepala atau kulminasi kembali menjadi daya tarik di Tugu Khatulistiwa, bertepatan dengan suasana Idul Fitri 1447 Hijriyah. Peristiwa alam yang hanya terjadi dua kali dalam setahun ini menciptakan momen unik, di mana bayangan benda di permukaan bumi tampak menghilang saat siang hari.

 

Fenomena yang terjadi setiap 21–23 Maret dan 21–23 September ini menarik perhatian banyak kalangan, termasuk para pelajar sekolah dasar yang turut menyaksikan langsung peristiwa langka tersebut.

 

 Bersama Edi Rusdi Kamtono, mereka mencoba mendirikan telur secara tegak—sebuah tradisi yang kerap dilakukan saat kulminasi matahari. Sorak gembira pun pecah saat beberapa anak berhasil melakukannya.

 

Tak hanya warga lokal, momen ini juga memikat perhatian wisatawan mancanegara. Salah satunya adalah Robby, seorang traveller dan konten kreator asal Swiss yang dikenal melalui kanal YouTube “Robby 3 Wheels”. Ia mengaku takjub menyaksikan fenomena tanpa bayangan tersebut secara langsung.

 

“Ini pengalaman yang luar biasa. Saya belum pernah melihat fenomena seperti ini sebelumnya. Saat bayangan benar-benar hampir hilang, itu sangat menakjubkan,” ungkapnya, Senin (23/3/2026).

 

Menurutnya, kulminasi matahari di Pontianak memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata dunia. Dengan pengemasan yang menarik dan promosi yang tepat, ia yakin fenomena ini mampu menarik lebih banyak wisatawan internasional.

 

Sementara itu, Edi Kamtono menjelaskan bahwa peristiwa kulminasi merupakan fenomena rutin yang menjadi ciri khas Kota Pontianak. Ia menyebut, tahun ini terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan bulan Syawal dan suasana Lebaran.

 

“Tahun ini menjadi momen yang istimewa karena bertepatan dengan bulan Syawal 1447 Hijriyah dan masih dalam suasana lebaran,” ujarnya.

 

Pemerintah Kota Pontianak pun terus berupaya mengemas peringatan kulminasi matahari sebagai agenda tahunan yang menarik, sekaligus memperkuat identitas kota sebagai daerah yang dilintasi garis khatulistiwa.

 

“Peristiwa ini menjadi ciri khas Kota Pontianak dan tidak ditemukan di daerah lain. Oleh karena itu, peringatannya akan terus dilaksanakan setiap tahunnya,” pungkasnya. (*)

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar: