Rabu, 15 April 2026
Advertisement
Advertisement

Diduga Keracunan Menu MBG, 162 Siswa dan Guru di Marau Ketapang Jalani Perawatan

© Foto oleh Author
ilustrasi
Advertisement

Rakyat Kalbar, Ketapang – Kasus dugaan keracunan menu Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Ketapang. Kali ini, ratusan siswa dan guru di Kecamatan Marau diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi menu MBG yang dibagikan di sekolah, Kamis (5/2/2026) pagi.

 

Para korban berasal dari SMP Negeri 1 Marau, SMA Negeri 1 Marau, dan SMK Negeri 1 Marau. Sejumlah siswa dan guru langsung dilarikan ke beberapa puskesmas setempat untuk mendapatkan penanganan medis. Hingga Kamis sore, sebagian korban masih menjalani perawatan.

 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, dr. Feria Kowira, menyampaikan bahwa berdasarkan data sementara, jumlah korban keracunan mencapai 162 orang.

 

“Data terbaru pukul 17.00 WIB, total korban ada 162 orang, terdiri dari siswa dan guru di Kecamatan Marau,” ujar dr. Feria saat dikonfirmasi, Kamis sore.

 

Ia menjelaskan, laporan kejadian keracunan massal diterima pihaknya sekitar pukul 10.00 WIB. Para korban umumnya mengeluhkan gejala mual, muntah, pusing, sakit perut, hingga diare setelah menyantap makanan MBG.

 

“Saat dibawa ke puskesmas sekitar pukul 10.00 pagi, kondisi korban muntah-muntah, pusing, dan beberapa mengalami diare. Secara umum mereka mengalami dehidrasi,” jelasnya.

 

Untuk menangani kasus tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang segera mengerahkan lima tim medis yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, Puskesmas Marau, Puskesmas Jelai Hulu, Puskesmas Suka Mulia, dan Puskesmas Marau.

 

Selain penanganan medis, pihak Dinas Kesehatan juga telah mengambil sampel makanan MBG serta sampel muntahan korban untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium guna memastikan penyebab keracunan.

 

“Sampel makanan dan muntahan sudah kami ambil untuk pemeriksaan di Pontianak. Sampel muntahan diperiksa di Laboratorium Kesehatan Provinsi, sedangkan sampel makanan dikirim ke Balai POM Kalimantan Barat,” pungkas dr. Feria. (*)

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar: