Senin, 09 Maret 2026
Advertisement
Advertisement

49 Naga Bersinar Terangi Jalan Gajah Mada, Ribuan Warga Padati Parade Cap Go Meh Pontianak

© Foto oleh Author
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono ikut memainkan naga saat menghadiri Parade Naga Bersinar.
Advertisement

Rakyat Kalbar, Pontianak – Iring-iringan Naga Bersinar dengan lampu warna-warni meliuk di tengah lautan manusia yang memadati sepanjang Jalan Gajah Mada, Pontianak, Selasa (3/3/2026) malam. Sebanyak 49 kelompok naga tampil memukau dalam parade yang menjadi bagian dari perayaan Cap Go Meh 2577 Kongzili di Kota Khatulistiwa.

 

Setiap kelompok menampilkan naga dengan panjang yang bervariasi, dihiasi lampu beraneka warna yang berkilau di malam hari. Gerakan lincah para pemain dipadu iringan musik tabuh tradisional menambah semarak suasana dan memancing tepuk tangan ribuan warga yang memadati lokasi.

 

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengapresiasi penyelenggaraan event budaya tersebut yang selalu berhasil menyedot perhatian masyarakat dari berbagai kalangan. Padatnya Jalan Gajah Mada oleh penonton menjadi bukti tingginya antusiasme masyarakat terhadap parade budaya tersebut.

 

“Kita lihat sendiri setiap digelarnya Parade Naga Bersinar pada perayaan Cap Go Meh, sudah dipastikan jalan ini penuh oleh warga yang menyaksikannya. Tidak hanya dari kalangan Tionghoa, tetapi masyarakat dari berbagai etnis semua berkumpul di sini,” ujarnya.

 

Menurut Edi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa budaya mampu menjadi perekat yang mempersatukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Ia menegaskan bahwa perayaan Cap Go Meh bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi momentum penting untuk menunjukkan kepada dunia bahwa keberagaman di Pontianak tumbuh dalam ruang toleransi yang nyata.

 

Terlebih, perayaan Imlek dan Cap Go Meh tahun ini bertepatan dengan bulan suci Ramadan, yang semakin memperlihatkan kuatnya nilai saling menghormati antarumat beragama di Kota Pontianak.

 

“Ini menjadi sinyal bahwa kota ini ramah bagi siapa pun yang ingin berkreasi dan berkarya,” ungkapnya.

 

Ia menilai, perayaan Imlek dan Cap Go Meh telah menjadi magnet budaya yang memperlihatkan wajah keberagaman Kota Pontianak di ruang publik. Penyelenggaraan Cap Go Meh juga menjadi bukti bahwa Pontianak mampu menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman etnis dan budaya.

 

“Atraksi disesuaikan dengan kondisi saling menghormati agama lain, khususnya bulan suci Ramadan. Kita memberi ruang bagi semua kegiatan yang berdampak pada ekonomi dan budaya,” tuturnya.

 

Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin menilai perayaan Imlek dan Cap Go Meh tahun ini menunjukkan antusiasme masyarakat yang luar biasa. Ia melihat arak-arakan naga yang digelar dalam beberapa tahun terakhir semakin meriah dan mendapat sambutan hangat dari warga.

 

“Terlihat hampir lima puluh naga berpartisipasi pada malam ini. Ini potensi besar yang harus terus kita kembangkan sebagai event wisata unggulan Kota Pontianak,” sebutnya.

 

Menurut Satarudin, jika dikemas secara lebih baik dan profesional, perayaan Cap Go Meh dapat memberikan dampak positif terhadap pendapatan daerah. Tingginya antusiasme masyarakat menjadi indikator kuat bahwa event budaya ini memiliki daya tarik tidak hanya bagi warga lokal, tetapi juga wisatawan dari luar daerah bahkan mancanegara.

 

Ia menambahkan, kehadiran wisatawan dari luar Kota Pontianak turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Perputaran ekonomi meningkat mulai dari sektor kuliner, perhotelan hingga pelaku usaha kecil dan menengah yang memanfaatkan momentum perayaan tersebut.

 

“Dengan semakin banyaknya pengunjung yang datang, tentu berdampak pada peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. Ini yang harus kita kelola dengan baik,” imbuhnya.

 

Ketua Panitia Festival Cap Go Meh Pontianak Hendri Pangestu Lim menjelaskan, Parade Naga Bersinar tahun ini diikuti 49 kelompok naga yang berasal dari berbagai kelenteng dan perkumpulan di Kota Pontianak.

 

“Naga terpanjang mencapai 118 meter, sedangkan yang terpendek sekitar 20 meter. Semua merupakan hasil kreasi masyarakat,” terangnya.

 

Ia mengatakan setiap kelompok menampilkan ciri khas tersendiri, mulai dari kombinasi warna lampu, gerakan atraktif para pemain hingga iringan musik tabuh yang membuat suasana semakin meriah.

 

Menurut Hendri, Parade Naga Bersinar tidak hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga bentuk pelestarian budaya Tionghoa yang telah lama tumbuh dan berakar di tengah masyarakat Pontianak. Persiapan kegiatan ini telah dilakukan jauh hari, termasuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat keamanan untuk memastikan kelancaran acara.

 

“Kami bersyukur kegiatan berjalan tertib dan lancar. Antusiasme masyarakat luar biasa, ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus menghadirkan perayaan yang lebih baik ke depan,” ucapnya.

 

Sejumlah warga mengaku sengaja datang lebih awal demi mendapatkan posisi terbaik untuk menyaksikan atraksi naga bercahaya tersebut. Rina (34), warga Pontianak Selatan, mengatakan dirinya rutin menyaksikan Parade Naga Bersinar setiap tahun bersama keluarga.

 

“Setiap tahun selalu ramai dan meriah. Anak-anak senang melihat naga yang menyala-nyala. Walaupun bertepatan dengan Ramadan, suasananya tetap tertib dan saling menghormati,” ungkapnya.

 

Hal senada disampaikan Ardi (27), warga Sungai Raya Dalam, yang menilai perayaan Cap Go Meh di Pontianak memiliki daya tarik tersendiri dibanding daerah lain. Menurutnya, keberagaman masyarakat yang menyatu dalam satu perayaan menjadi kekuatan utama Kota Khatulistiwa.

“Kita semua berkumpul di sini untuk menyaksikan parade naga bersinar,” tutupnya. (*)

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar: