Minggu, 05 April 2026
Advertisement
Advertisement

Dentuman Meriam Karbit Menggema, Tradisi Ikonik Pontianak Pererat Kebersamaan Warga

© Foto oleh Editor
Penyulutan meriam karbit menandai dimulainya eksibisi yang dimeriahkan sebanyak 229 meriam di 42 titik lokasi.
Advertisement

Rakyat Kalbar, Pontianak – Dentuman meriam karbit kembali menggema di tepian Sungai Kapuas, menghadirkan suasana meriah sekaligus penuh makna dalam Eksibisi Meriam Karbit yang digelar di Gang Darsyad, Kelurahan Bangka Belitung Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kamis (19/3/2026) malam.

 

Sebanyak tujuh meriam karbit disulut secara bergantian oleh para tamu undangan, menghasilkan suara menggelegar yang memacu adrenalin penonton, terutama bagi mereka yang baru pertama kali menyaksikan tradisi khas Kota Pontianak ini dari jarak dekat.

 

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyebut eksibisi tahun ini terasa istimewa di tengah perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriyah antara pemerintah dan Muhammadiyah. Meski demikian, tradisi tetap berjalan sebagai simbol kebersamaan.

 

“Dentuman meriam karbit ini menjadi penanda berakhirnya Ramadan dan menyambut Idul Fitri, seperti yang telah dilakukan secara turun-temurun,” ujarnya.

 

Tradisi meriam karbit sendiri telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Pontianak yang bermukim di sepanjang Sungai Kapuas. Bahkan, sejak tahun 2016, tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Lebih dari sekadar hiburan, meriam karbit mengandung nilai filosofis tentang gotong royong dan kebersamaan. Proses pembuatannya melibatkan kerja kolektif masyarakat, mulai dari merakit, merawat, hingga membunyikannya secara bersama-sama.

 

“Di dalamnya ada nilai silaturahmi dan kebersamaan. Walaupun ada persaingan antar kelompok, tetap dalam semangat kekerabatan,” jelas Edi.

 

Tahun ini, sebanyak 229 meriam karbit ambil bagian dalam eksibisi, tersebar di 42 titik di sepanjang tepian Sungai Kapuas, meliputi wilayah Pontianak Selatan, Tenggara, dan Timur. Ukurannya pun beragam, bahkan ada yang berdiameter lebih dari 80 sentimeter dan terbuat dari kayu gelondongan yang direndam untuk menjaga kualitasnya.

 

Bagi masyarakat Pontianak, dentuman meriam karbit bukan sekadar tradisi, melainkan identitas budaya yang melekat dan menjadi penanda datangnya Hari Raya Idul Fitri.

 

Ke depan, Pemerintah Kota Pontianak berharap tradisi ini tidak hanya terus lestari, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi melalui pengembangan sektor pariwisata.

 

“Kami akan terus melakukan evaluasi agar kegiatan ini semakin menarik dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” tambahnya.

 

Kemeriahan meriam karbit juga menarik perhatian pengunjung dari luar daerah. Salah satunya konten kreator asal Tanjung Pinang, Bedah, yang mengaku terkesan dengan keunikan tradisi tersebut.

 

“Ini pengalaman pertama saya melihat langsung. Suasananya luar biasa, bukan hanya dentumannya, tetapi juga kebersamaan masyarakatnya,” ungkapnya.

 

Ia menilai meriam karbit memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata, bahkan hingga tingkat internasional, jika dikemas secara lebih modern tanpa meninggalkan nilai tradisionalnya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Sri Sujiarti, menjelaskan bahwa lokasi eksibisi tersebar di berbagai titik di sepanjang Sungai Kapuas.

 

“Total ada 42 titik dengan 229 meriam karbit yang tersebar di Pontianak Selatan, Tenggara, dan Timur,” tutupnya. (*)

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar: