Senin, 06 April 2026
Advertisement
Advertisement

Obesitas Melonjak, PERKENI Kalbar Ajak Masyarakat Ubah Pola Hidup Sebelum Terlambat

© Foto oleh Editor
Para pengurus Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Cabang Kalbar masa bakti 2026-2027.
Advertisement

Rakyat Kalbar, Pontianak – Lonjakan kasus obesitas di Indonesia kini menjadi alarm serius bagi dunia kesehatan. Kondisi yang dulu kerap dianggap sepele ini, kini justru menjadi pintu masuk berbagai penyakit berbahaya, terutama diabetes yang prevalensinya telah mencapai sekitar 11 persen secara nasional.

 

Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Cabang Kalimantan Barat, dr Amanda Trixie Hardigaloeh, Sp PD, K-EMD, FINASIM, menegaskan bahwa obesitas tidak lagi sekadar persoalan penampilan, melainkan sudah masuk kategori penyakit dengan dampak luas terhadap tubuh.

 

“Prevalensi obesitas sudah mencapai sekitar 30 persen dan terus meningkat. Ini menjadi faktor risiko utama berbagai penyakit endokrin, terutama diabetes,” ujarnya dalam simposium yang dirangkaikan dengan pelantikan PERKENI Kalbar di Hotel Ibis Pontianak, Sabtu (4/4/2026).

 

Ia menjelaskan, obesitas berkaitan erat dengan beragam gangguan kesehatan, mulai dari hipertensi, kolesterol tinggi, gangguan sendi, infertilitas, hingga penurunan fungsi kognitif. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi penyakit serius seperti diabetes, penyakit jantung, bahkan kanker.

 

Karena itu, pencegahan sejak dini menjadi langkah paling krusial. Amanda menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara asupan energi dan aktivitas fisik. Pengaturan pola makan, terutama dalam mengontrol konsumsi karbohidrat, menjadi kunci utama.

 

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk menghindari gaya hidup sedentari atau kurang gerak. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki dan bersepeda dinilai sudah memberikan manfaat besar bagi kesehatan.

 

“Namun untuk kondisi tertentu seperti obesitas dan diabetes, aktivitas fisik saja tidak cukup. Diperlukan latihan yang terstruktur dan terencana agar hasilnya optimal,” jelasnya.

 

Dalam simposium tersebut, berbagai isu penyakit endokrin turut dibahas, mulai dari gangguan hormon di otak, pertumbuhan, tiroid, adrenal, hingga sistem reproduksi.

 

Sementara itu, Ketua Bidang Penelitian PERKENI Kalbar, dr Izzudin Fathoni, Sp KO, menilai obesitas menjadi perhatian utama karena dampaknya yang sangat luas dan kompleks.

 

“Obesitas yang dulu hanya dianggap kondisi fisik, kini telah menjadi penyakit yang memicu berbagai gangguan metabolik, seperti penyakit jantung, stroke, hingga diabetes,” katanya.

 

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap obesitas. Menurutnya, berat badan kini sudah menjadi indikator penting dalam menilai kondisi kesehatan seseorang.

 

“Berat badan bisa dikatakan sebagai tanda vital tambahan. Jadi, jangan lagi menganggap tubuh gemuk itu pasti sehat,” tegasnya.

 

Izzudin menyoroti masih kuatnya anggapan di masyarakat bahwa tubuh gemuk identik dengan kesehatan, terutama pada anak-anak. Padahal, persepsi tersebut dinilai sudah tidak relevan dengan kondisi medis saat ini.

 

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya deteksi dini. Masyarakat diimbau lebih peduli saat memantau berat badan, termasuk memastikan apakah masih berada dalam kategori normal.

 

“Deteksi dini jauh lebih mudah ditangani dibandingkan jika sudah terjadi komplikasi,” tambahnya.

 

Keberadaan PERKENI Cabang Kalbar diharapkan mampu memperkuat layanan kesehatan di daerah, khususnya dalam menangani penyakit endokrin yang terus meningkat. Saat ini, PERKENI telah memiliki 21 cabang di Indonesia, meski jumlah dokter spesialis endokrin secara nasional masih terbatas, yakni sekitar 171 orang. (*)

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar: