Rakyat Kalbar, Jakarta. Forum Wartawan Kebangsaan menggelar diskusi mingguan di Jakarta pada Rabu (4/11/2026). Diskusi yang dipimpin langsung pendiri FWK, Hendry Ch Bangun, mengupas isu penyadapan Presiden Indonesia, Prabowo Subianto. Namun ada yang lebih penting, yaitu kondisi masyarakat.
Pertengkaran di kalangan elit yang ditandai dengan dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo, pimpinan partai, anggota parlemen, aktivis, hingga praktisi media, jangan mendistorsi masalah yang dihadapi rakyat.
Realita saat ini, banyak terjadi pemutusan hubungan kerja, merosotnya daya beli, tingginya harga kebutuhan pokok hingga kesejahteraan rakyat yang merosot secara merata di seantero negeri.
Demikian kesimpulan diskusi mingguan Forum Wartawan Kebangsaan oleh Hendry Ch Bangun bersama Pemimpin Redaksi VOI Iqbal Irsyad, wartawan Suara Merdeka Doktor Budi Nugraha, wartawan senior Kompas Mohamad Nasir, wartawan ahli hukum HMU Kurniadi, Pemred Mitrapol Dadang Rahmad, wartawan senior Berman Nainggolan, Rudy Sitompul dan Sigit Setiono, wartawan senior Warta Kota.
“Tentu saja akuntabilitas pemerintahan harus dijaga, supaya tidak ada penyalahgunaan yang membahayakan penyelenggaraan negara yang terlihat dari kasus penyadapan yang kini sedang menjadi tren berita,” kata Mohamad Nasir.
Menurutnya, kekuasaan harus check dan balancing. “Tetapi yang jauh lebih penting, jangan pernah lupa melihat penderitaan di kalangan masyarakat yang kini semakin nyata,” tambah Nasir.
Penangkapan terhadap sejumlah Perwira Tinggi Kepolisian RI termasuk eks Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, karena adanya penyadapan illegal selama dua tahun. Berita ini mengguncang negara karena dinilai sebagai peristiwa luar biasa.
Bobolnya jalur komunikasi presiden juga dianggap sebagai kelalaian internal. Karena sebenarnya, ada sejumlah lembaga negara yang ikut menjaga agar komunikasi pimpinan tertinggi negara tetap aman.
“Ada BIN, Badan Sandi Negara, Sekmil Presiden dan sejumlah pihak yang seharusnya menjadikan komunikasi presiden aman. Saya heran, mengapa ini bisa terjadi,” ucap Hendry Ch Bangun.
Hendry berpandangan, apa yang terjadi hari ini sangat membayahakan. “Harus ada evaluasi total agar tidak berulang,” lugas Hendry.
Sementara itu, Sigit Setiono menilai, peristiwa tersebut menggambarkan adanya tindakan yang melebihi kepatutan yang dilakukan petinggi Polri. Boleh jadi, perbuatan tersebut demi kepentingan pribadi, kelompok ataupun kepentingan lain yang masih harus diselidiki tujuan akhirnya.
Ia pun mengharapkan, pemeriksaan lebih lanjut dapat membuka secara jelas tabir yang ada dan diinformasikan secara gamblang kepada publik. “Ini harus dijelaskan kepada rakyat. Jangan ditutupi agar rakyat tahu apa yang sebenarnya terjadi,” timpal Berman Nainggolan.
Tantangan Rakyat
Di sisi lain, meskipun banyak masyarakat yang tertarik dengan adanya peristiwa penyadapan yang sudah menjadi rumor sejak Senin pagi kemarin, tidak sedikit pula informasi di Medsos meragukan kesungguhan kejadian ini sebagai upaya makar dan penggulingan pemerintahan.
“Bisa saja ini menjadi pengalihan isu atas berbagai persoalan yang ada. Seperti kelangkaan BBM, naiknya harga, menghilangnya sejumlah bahan pokok seperti gula, hidup yang semakin sulit dan pemerintahan yang seperti cuek dengan penderitaan rakyat,” tertulis di satu akun Instagram.
Sementara itu, Hendry Ch Bangun menyampaikan, bahwa senang ke lapangan untuk berkomunikasi dengan masyarakat. “Kehidupan masyarakat makin susah. Pembeli di warung makin ngirit, belanja sedikit, secukupnya, asal dapur bisa ngebul,” cerita Hendry.
“Kalau kita perhatikan, konsumen KRL dan Angkutan Umum lainnya makin membeludak, padat, soalnya murah dan cepat. Masyarakat berhemat agar dapat bertahan,” tutup Budi Nugraha. (*)
Komentar
Silakan login untuk memberikan komentar: