Kamis, 26 Februari 2026
Advertisement
Advertisement

Diseminasi Photovoice Angkat Suara Warga, Rekam Risiko Banjir dari Perspektif Orang Pontianak

© Foto oleh Author
Yayasan Kolase menggelar Program Photovoice.
Advertisement

Rakyat Kalbar, Pontianak – Pengalaman warga Kota Pontianak yang selama ini hidup berdampingan dengan banjir rob diangkat melalui program Photovoice yang digelar Yayasan Kolase di Rumah Budaya Gang Hj Salmah, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kamis (15/1/2026).

 

Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk merekam realitas banjir dari sudut pandang warga, sekaligus mendorong lahirnya kebijakan publik yang lebih inklusif dan berpihak pada masyarakat terdampak.

 

Ketua Yayasan Kolase, Andi Fahrizal, menjelaskan bahwa Photovoice merupakan metode partisipatif yang menempatkan warga sebagai subjek utama dalam menceritakan pengalaman hidup mereka melalui foto dan narasi.

 

“Photovoice tidak menempatkan masyarakat sebagai objek penelitian, tetapi sebagai subjek aktif. Warga memotret realitas yang mereka hadapi dan menceritakannya dengan bahasa mereka sendiri,” ujarnya.

 

Menurut Andi, pendekatan ini penting agar persoalan banjir tidak hanya dipahami melalui data dan angka, tetapi juga melalui pengalaman keseharian warga yang selama ini kerap terpinggirkan dalam proses perumusan kebijakan.

 

“Foto-foto ini bukan sekadar visual. Di dalamnya ada cerita, ingatan, dan pengalaman hidup warga yang berhadapan langsung dengan banjir,” katanya.

 

Program Photovoice Banjir Pontianak merupakan mandat dari FINCAPES dan telah berjalan sejak Oktober 2025. Sebanyak 30 fotografer warga dilibatkan untuk mendokumentasikan kondisi banjir di delapan kawasan rawan banjir yang mencakup 21 kelurahan di Kota Pontianak.

 

Penentuan wilayah tersebut merujuk pada hasil studi Incapes Project melalui Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, yang menyimpulkan bahwa Pontianak rentan terhadap banjir akibat kondisi geografis dan tekanan pembangunan.

 

“Pontianak berada di dataran rendah dengan karakter tanah rawa gambut pesisir. Ditambah laju urbanisasi yang tinggi, ruang resapan air terus berkurang dan ini menjadi tantangan serius,” jelas Andi.

 

Ia menyinggung banjir besar yang terjadi pada 8–9 Desember 2025 sebagai peringatan penting meningkatnya risiko banjir. Saat itu, permukaan air laut mencapai sekitar 1,9 meter dan air bahkan masuk hingga ke kolong Rumah Budaya. “Ini bukan lagi kejadian rutin tahunan, tetapi sinyal bahwa risiko banjir semakin meningkat,” ujarnya.

 

Rangkaian diseminasi Photovoice meliputi sesi refleksi, pameran fotografi karya warga, serta publikasi melalui podcast. Pameran dirancang sebagai ruang dialog antara warga, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.

 

“Pameran ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi membuka percakapan dan pemahaman bersama mengenai persoalan banjir,” kata Andi.

 

Sebanyak 30 karya fotografi warga dipamerkan di halaman Rumah Budaya Pontianak dengan nuansa yang merefleksikan ingatan kolektif Pontianak era 1980-an. Kegiatan Nongkrong Senja di Pontianak turut digelar sebagai bagian dari rangkaian acara.

 

“Pendekatan budaya kami pilih agar isu banjir bisa dibicarakan dengan cara yang lebih membumi dan dekat dengan warga,” tambahnya.

 

Kegiatan ini dibuka oleh Wali Kota Pontianak yang diwakili Kepala Bapperida Kota Pontianak, Sidig Handanu, serta dihadiri perwakilan OPD, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan mitra internasional.

 

Sidig Handanu menegaskan bahwa banjir tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan musiman, melainkan tantangan struktural yang berkaitan dengan perubahan iklim, pola pembangunan, dan perilaku masyarakat.

 

“Isu banjir sudah menjadi isu strategis Kota Pontianak. Dalam perencanaan jangka pendek, menengah, hingga panjang, aspek ketahanan kota, risiko bencana, dan kualitas lingkungan hidup telah kami masukkan,” ujarnya.

 

Ia menilai Photovoice menjadi ruang penting untuk menangkap cara pandang masyarakat terhadap banjir. Menurutnya, warga merupakan pihak yang paling merasakan dampak banjir, sehingga perspektif mereka harus menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan.

 

“Melalui kegiatan ini, kita bisa melihat bagaimana masyarakat memaknai banjir—apakah sebagai bencana, genangan biasa, atau sesuatu yang dianggap wajar. Semua pandangan itu penting untuk didengar,” katanya.

 

Sidig juga menekankan pentingnya penguatan sistem peringatan dini dan kolaborasi lintas wilayah dalam upaya mitigasi banjir, mengingat dampak perubahan tata guna lahan di daerah hulu turut memengaruhi kawasan rawan banjir di Pontianak.

 

Sementara itu, akademisi Universitas Waterloo, Kanada, Prof. Stefan Steiner, menegaskan bahwa risiko banjir tidak dapat dipahami semata-mata melalui peta dan model ilmiah, tetapi juga harus dilihat dari pengalaman hidup warga yang mengalaminya secara langsung.

 

“Model dan peta ilmiah memang penting, tetapi belum menceritakan keseluruhan realitas. Risiko banjir dialami di rumah, di jalan, di sekolah, dan dalam kecemasan setiap kali hujan turun,” ujarnya.

 

Di bawah naungan program FinCAPES, Universitas Waterloo mendukung berbagai kajian risiko banjir di Pontianak, termasuk pendekatan partisipatif Photovoice yang menempatkan warga sebagai pusat produksi pengetahuan.

 

“Warga Pontianak memahami kotanya lebih baik dari siapa pun. Pengalaman hidup dan pengetahuan lokal mereka sangat penting dalam merumuskan strategi adaptasi terhadap perubahan iklim,” kata Prof. Steiner.

 

Ia menegaskan bahwa pameran dan diskusi Photovoice bukanlah akhir dari proses, melainkan awal dialog berkelanjutan antara masyarakat, pembuat kebijakan, akademisi, dan praktisi.

 

“Tujuan kami adalah menjembatani sains, pengalaman warga, dan kebijakan agar Pontianak dapat menjadi kota yang lebih tangguh menghadapi risiko banjir di masa depan,” pungkasnya. (*)

Editor :
Slamet Ardiansyah

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar: